Wejangan Syekh Abdul Qadir Jaelani

WEJANGAN SYEIKH ABDUL QADIR JAELANY

1. Berilah pendidikan yang baik kepada orang yang kamu kuasai urusannya dan pendidikannya, dan orang yang wajib kamu perhatikan. Sabda Nabi : Janganlah kamu angkat tongkatmu kepada keluargamu, melainkan takut-takutilah mereka kepada Allah.


2.“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam” (Alhadits) Janganlah kamu berbicara berlebih-lebihan karena bahayanya banyak bicara adalah kedustaan. Orang yang banyak bicaranya itu banyak pula dustanya.

3. Wahai hamba Allah, hormatilah orang yang mencintaimu serta balaslah kecintaannya dengan mencintainya pula. Janganlah kamu marah bukan karena Allah dan janganlah kamu memerintahkan orang untuk melakukan kebaikan kecuali kamu sendiri mulai melakukannya. Janganlah kamu melarang orang dari melakukan keburukan sebelum kamu sendiri mulai meninggalkannya.

4. Wahai hamba Allah, sambunglah orang yang memutuskan hubungan denganmu, maafkanlah orang yang manganiaya dirimu, dan berilah orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepadamu.

5. Janganlah kamu melanggar apa yang kamu larang. Apabila kamu berkata hendaklah yang ringkas, jangan ngelantur.

6. Janganlah kamu melakukan perbuatan rahasia, yang tidak baik jika kamu lakukan secara terang-terangan. Jagalah dirimu dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan dugaan yang tidak baik mengenai agamamu dan duniamu.

7. Persedikitlah permintaanmu kepada orang lain, karena hal itu merupakan suatu kehinaan pada dirimu.

8. Wahai hamba Allah, jauhkanlah dirimu dari orang yang kotor mulut, janganlah kamu duduk dengan orang-orang yang lemah akhlaknya. Dari Ibnu Mas'oed Santiagoud : Nilailah manusia itu dengan teman-temannya, karena seseorang itu hanya berteman dengan orang yang seperti dirinya.

9. Tolonglah orang yang teraniaya dan belalah dia semampumu serta cegahlah tangan orang zalim agar tidak melakukan kezaliman. Sabda Nabi : Barangsiapa berjalan dengan orang yang teraniaya sehingga ia dapat menetapkan hak nya, maka Allah akan mengukuhkan kakinya pada hari tergelincirnya kaki-kaki manusia (hari kiamat).

10. Sesungguhnya yang aku takutkan kepadamu ada dua macam: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. (Alhadits) Ingatlah bahwa menuruti hawa nafsu itu akan menghalangi orang melakukan kebenaran, dan panjang angan-angan itu menjadikan orang lupa akherat dan lupa Allah Azza wa Jalla.

11. Wahai hamba Allah, terimalah permintaan maaf orang yang meminta maaf kepadamu, dan  tariklah apa yang kamu benci. Sabda Nabi : Barangsiapa meminta maaf kepada saudaranya sesama muslim, lantas dia (yang dimintai maaf) tidak menerimanya, maka dia berdosa sebagai orang yang berbuat jahat.

12. Kasihanilah orang lain niscaya Allah mengasihani kamu. Jika kamu tidak mengasihi orang lain, maka Allah pun tidak akan mengasihimu.

13. Hendaklah kamu suka mentaati Allah niscaya Allah akan mencintaimu dan menjad ikan mahluk-Nya cinta kepadamu.

14. Wahai hamba Allah, apabila kamu bersumpah untuk melakukan sesuatu yang bukan merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah kamu melaksanakannya , dan bayarlah kafarat untuknya.

15. Berterima kasihlah kepada orang lain atas kebaikan mereka kepadamu, dan balaslah kebaikannya itu jika kamu mampu.

16. Janganlah kamu bertengkar dengan seseorang sekalipun kamu benar. Jika kamu hendak melakukan sesuatu dari urusan dunia, maka pikirkanlah akibatnya.

17. Wahai hamba Allah, janganlah kamu merasa suka jika seseorang ditimpa sesuatu yang kamu sendiri tidak suka mengalaminya.

18. Sabda Nabi : Tiadalah Allah memberi suatu nikmat kepada seseorang lalu ia mengucapkan alhamdulillah, melainkan sikap dan ucapan yang demikian itu lebih besar daripada nikmat itu sendiri, meski sebesar apapun nikmat itu.
´
19. Jika kamu ingin melakukan sesuatu yang merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah kamu menunda-nunda jika kamu dapat melakukannya segera, karena dirimu sendiri tidak dijamin aman dari peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi. Jika kamu punya keinginan lain yang bukan merupakan ketaatan kepada Allah, jika kamu dapat untuk tidak melaksanakannya, maka janganlah kamu laksanakan. Semoga Allah memberikan kesibukan lain untuk mu sehingga kamu meninggalkannya.

20. Janganlah kamu menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kamu berikan kepada seseorang, karena yang demikian itu dapat menghilangkan pahalamu. Jika ada orang yang berbuat kebaikan kepadamu sedang kamu tidak dapat membalasnya, maka pujilah dia dan sebut-sebutlah.

21. Kalau kamu telah bersumpah untuk melakukan sesuatu sedangkan orangtuamu atau salah satunya bersumpah agar kamu melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang kamu kehendaki, maka taatilah kedua orang tuamu asalkan perintah mereka itu bukan maksiat.

22. Jadilah kamu seakan-akan malaikat pencabut nyawa telah mencabut nyawamu, seakan-akan bumi menelanmu, seakan-akan gelombang dahsyat menyedotmu kedalam lautan dan meneggelamkanmu . Barangsiapa telah sampai pada kondisi ini niscaya hukum sebab akibat tidak berpengaruh lagi bagimu. Karena, keberadaan itu hanyalah menurut pandangan lahiriah
saja, bukan menurut alam batin.

23. Wahai manusia jahil, kamu ingin mengubah dan mengganti kehendak-Nya, apakah kamu mengaku menjadi tuhan kedua setelah Allah Azza wa Jalla, dimana kamu memaksa Dia agar menyesuaikan suatu hal menjadi kebalikannya.

24. Orang-orang yang beriman itu tetap bertahan dari cobaan dan ujian Allah, bahkan cobaan dan ujian tersebut malah mengantarkan dirinya ke puncak kebaikan, baik didunia maupun di akherat. Dalam menghadapi cobaan dan ujian tersebut adalah menerima dan sabar dalam menghadapinya tanpa mengadu kepada orang lain atau meminta bantuan pada selain Allah, bahkan saat itu dia lebih giat dan lebih sibuk bersama Allah Azza wa Jalla.

25. Siapa yang tidak berbudi dengan pendidikan syariat, niscaya dia akan dididik dengan api neraka dihari kiamat nanti. 

26. Wahai hamba Allah, bertobatlah kamu. Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah Azza wa Jalla menguji kamu dengan suatu ujian itu agar kamu bertobat kepada-Nya, tetapi kamu tidak memikirkan untuk melepas maksiat terhadap-Nya?

27. Wahai hamba Allah, manusia telah disediakan celaan dan pujian seperti musim panas dan musim dingin, atau seperti siang dan malam. Keduanya sama-sama tidak lepas dari pengawasan Allah. Oleh karena itu tidak seorangpun yang mampu mendatangkan celaan dan pujian atau salah satunya, kecuali dengan izin Allah. Apabila hal tersebut telah jelas bagimu, maka kamu tidak perlu bangga dengan pujian dan tidak cemas dengan adanya celaan.

28. Wahai manusia, celaka benar kamu yang mengikuti perbuatan ahli neraka tetapi mengharapkan surga. Ini menunjukkan kerakusanmu yang tidak pada tempatnya, karena kamu tidak berhak memperoleh apa yang kamu harapkan itu dikarenakan jalan yang kamu tempuh adalah menyimpang jauh. Janganlah kamu terperdaya oleh kenikmatan dunia yang kamu sangka kamu peroleh. Padahal dalam waktu dekat hal itu akan tercabut darimu. Allah akan merendahkan kehidupanmu sehingga kamu tunduk dan patuh kepada-Nya.

29. Wahai hamba Allah, jadilah kamu orang yang benar, tentu kamu akan baik. Jadilah kamu pembenar dalam hukum tentu kamu baik dalam keilmuan. Jadilah kamu baik dalam perasaan tentu kamu baik dalam kenyataan. Setiap keselamatan yang ada dalam ketundukan kepada Allah adalah sebagai perwujudan dari melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya serta sabar atas ketentuan-Nya. Barangsiapa menuruti Allah tentu Allah mengabulkan permohonan nya dan doanya, dan siapa yang tunduk kepada Allah tentu orang lain akan tunduk kepadanya.

30. Wahai hamba Allah, tunduklah kamu kepada-Nya untuk mencari ridlo-Nya. Jagalah sesuatu yang diberikan dan yang menyebabkan siksa. Taat kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah dan menghentikan segala yang dilarang serta bersabar atas ketentuan-Nya.

Bertobatlah kamu, menangislah dihadapan-Nya, rendahkanlah dirimu dengan derai airmata sepenuh hati. Menangis karena takut kepada-Nya itu suatu ibadah dan mata yang menangis karena takut Allah itu tidak akan tersentuh oleh panasnya api neraka diakherat nanti, maka menangislah kamu karena menangis itu membawa manfaat bagimu.

Wahai hamba Allah, mengapa kamu menuhankan dirimu, berita apa yang kamu terima sampai kamu sombong kepada Allah Azza wa Jalla. Mengapa kamu berkehendak selain yang Dia kehendaki, bahkan kamu cinta musuh-musuh-Nya, setan yang terkutuk. Mengapa jika keputusan Tuhan telah tiba kamu berontak tidak sabar, bahkan kamu lari dan mencabut apa yang menjadi kehendak-Nya.

31. Sabda Nabi: “Apabila seorang hamba malas dalam beramal, niscaya Allah Azza wa Jalla mengujinya dengan rasa duka cita.” (Alhadits)

Siapapun yang malas beramal, maka akan memperoleh cobaan dari Allah berupa duka cita, kegoncangan, dan kesusahan. Ujian itu mungkin berupa surutnya rezeki sehingga hatinya ragu dan susah, dan ujian duka cita itu menetap dalam hatinya sehingga apapun yang dihadapinya selalu dihantui oleh perasaan susah dan goncang, hatinya tidak tenang, perasaannya selalu pesimis dan selalu dihantui perasaan kurang, kurang baik, kurang banyak, kurang cantik, kurang sempurna, dimana perasaan goncang seperti itu karena malas beramal dan sedikitnya melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

32. Sabda Nabi: “Barangsiapa hari-harinya sama berarti ia tertipu. Dan barangsiapa hari kemarennya lebih baik daripada hari ini berarti ia tertutup dari rahmat.” (Alhadits)

33. Tobat itu landasan iman, penekunannya terletak dalam berdzikir dan taat kepada-Nya. Jika ditekuni niscaya dzikir itu menjadi obat jiwa. Bertobatlah dengan lisan iman, niscaya membawa keberuntungan. Jadikanlah iman sebagai pedangmu ketika datang ujian Allah.

34. Bertobatlah kepada Allah, janganlah kamu beramal baik kecuali untuk-Nya, jangan kamu tujukan kepada dunia atau kepada akherat. Jadilah kamu seperti orang yang berhasrat kepada-Nya semata, berikan hak ketuhanan-Nya. Dia harus kamu sembah. Janganlah kamu beramal untuk mencari pujian, rezekimu itu tidak bertambah atau berkurang, karena sesuatu yang telah diputuskan untukmu itu pasti datang, baik yang berupa kebaikan atau keburukan. Persempitlah kerakusanmu dan jadikanlah kematian sebagai titik pandangmu agar kamu tidak terlalu menyimpang jauh dari kebenaran.

35. Wahai hamba Allah, sibukkanlah dirimu untuk membantu orang-orang yang terjepit, orang-orang yang teraniyaya. Berikanlah waktumu kepada orang-orang fakir miskin yang terpedaya, karena jika waktumu tersita untuk menolong hamba-hamba Allah, adalah sama halnya kamu menolong Allah Azza wa Jalla.

36. Tinggalkanlah berbesar diri dihadapan Allah atau terhadap sesamamu, karena perbuatan itu termasuk diantara sifat orang sombong yang muka mereka akan diasah oleh Allah dengan api jahanam. Termasuk orang sombong pula jika kamu marah kepada-Nya. Seperti halnya jika kamu mendengar suara adzan tetapi tidak menjawabnya, tidak bersegera mengerjakan sholat maka berarti kamu telah ber laku sombong kepada Allah. Dan bila manusia berbuat aniaya terhadap sesamanya berarti ia telah berbuat sombong dihadapan-Nya.

37. Janganlah kamu menganggap dirimu lebih berharga, lebih mulia, lebih terhormat, lebih kuat, lebih gagah, dan lebih pandai dar ipada orang lain. Karena, sifat demikian adalah kesombongan dimana karena mempunyai sifat serba merasa lebih inilah akhirnya menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Sombong itu menolak kebenaran dan menghinakan orang lain. (Alhadits, Muslim)

38. Dilihat dari sasarannya, ada 3 macam sombong Sombong kepada Allah, dalam arti tidak  memperhatikan sama sekali ancaman-ancaman Allah, syariat Allah dianggap suatu hal yang remeh, dan tidak mau mengamalkannya. Kalau manusia sudah bersifat seperti itu, maka tidak tertutup kemungkinan timbul dalam jiwanya sifat jahat, tidak peduli lagi terhadap aturan-aturan yang berlaku.

Sombong kepada Rasulullah saw, yaitu tidak mengindahkan sama sekali aturan-aturan Rasulullah saw, bahkan Rasulullah saw dianggap sebagaimana manusia biasa yang tak perlu diperhatikan ucapannya. Dan hadits-hadits Rasulullah saw dianggapnya seperti omongan manusia yang tidak mengandung hikmah dan pelajaran bagi manusia. Ia lebih mementingkan pikirannya daripada ucapan Rasulullah saw.

Sombong terhadap sesama manusia, yaitu orang lain dianggap hina dan rendah, tidak perlu dihormati, dan bila perlu manusia harus menghormat kepadanya. Akhirnya timbul rasa bangga terhadap dirinya sendiri, ingin dihormati, ingin diperhatikan, dan lain-lain sifat tercela tumbuh dalam jiwanya. Orang yang sombong tidak pantas bagi dirinya kecuali memperoleh siksa neraka.

39. Wahai hamba Allah, carilah kedudukan disisi Allah, impikanlah, dan jadikanlah kecenderunganmu untuk-Nya, tinggalkanlah mencari dunia karena hal itu tidak akan memberi kepuasan, karena selain Allah tidak akan pernah memuaskanmu. Oleh karena itu rapatkan dirimu dengan-Nya, karena dengan cara itulah kamu akan mampu memuaskan hatimu, dan jika berhasil tentu bisa mencapai kecukupan dunia akherat. Butuhkan dirimu hanya kepada-Nya, carilah Dia yang mencintaimu, cintailah Dia yang mencintaimu, dan sibukkan dirimu bersama-Nya agar kamu termasuk orang-orang yang selalu mencintai-Nya dan dicintai-Nya.

Wallahua'laambi shawaab.